"Dek, Tian mohon bantuan untuk mengantar tamu Korea dari AFACI ke Bandung. Tks".
Woalah asyik nih jalan-jalan ke Bandung sama orang Korea. Semoga aja orang Koreanya ganteng kaya di film drama Korea, paling tidak semoga agak mirip Lee Min Ho. Kan lumayan bisa ngecengin orang Korea, siapa tau aja berjodoh. Hehehe. "hmmmpph, emang mau dapetin suami beda agama?",si mamah nyolot gara-gara dengerin aku berkhayal dengan kerjaanku. Seolah-olah, tuh orang Korea mau ngelamar besok.
Jam tujuh pagi, aku jemput tuh orang Korea di Plaza hotel Cikampek. Harap-harap cemas menunggu dua orang Korea itu menuju lobi. Ini bukan pertama kalinya aku menjadi liaison officer (guide) buat para peneliti asing. Alhamdulillah, ini pengalaman yang luar biasa bagiku. Lewat pekerjaanku ini, dunia pertemanan aku meluas sampai ke negara Afrika.
Bersama orang Pakistan
Bersama peneliti muda IRRI Filipina
Bersama Dokter-dokter Malaysia dan Filipina at Asean Paragames, Solo
Setelah dihubungi Pak Asep Dedi (rekan kerja), keluarlah dua orang bermata sipit berkulit kuning langsat. Jreeeng jreeeng. Oh ini mah malah mirip Bapanya Ko Hye Sun. hehehe. Ternyata kedua orang ini bukan sembarang orang biasa. Mereka adalah Prof. Kim dan Dr. Lee. Mereka tuh guru besar di sebuah universitas di Seoul. Huft... Harus jaga image nih.
Perjalanan dari Cikampek ke Bandung membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam via tol cikampek. Karena aku hanya sebagai tour guide, jadi aku harus bertanya pada klien apa yang mereka ingin tau dari kota Bandung.
"Sir, Bandung is one of the biggest cities in Indonesia. Bandung is known as culinary city, shopping city, and it has beautiful views. So what are you looking for in Bandung", jelas si tour guide.
"Wherever you want to go. I just want refreshing my self from my activity", jawab si Prof. Kim dengan matanya yang sipit dan penuh senyum.
Sebagai tour guide yang sok tau, si aku mulai menjelaskan apa saja yang menarik di Bandung. Secara aku hatam deh masalah tempat main di Bandung. Wong, aku lahir di Bandung juga kuliah disana selama bertahun-tahun. Tapinya penumpang Korea yang aku bawa ini kayaknya malah gak tertarik ma penjelasan aku tentang Bandung. Mereka malah mulai menanyakan "Are you single?".
Ya elah, gak orang Indonesia, gak orang Korea mulai nanya-nanya apa aku single atau double (a.k.a married). Dan ternyata itu pertanyaan pancingan. Prof. Kim yang fasih berbahasa Inggris secara dia kuliah bertahun-tahun di US jadi logatnya pun sudah menyerupai orang US, jadi gak susah buat aku terjemahin. Sedangkan Dr. Lee hanya jadi pendengar, karena bahasa Inggrisnya gak sebagus Prof. Kim, aksen Koreanya lebih kental sehingga terkadang aku butuh konsentrasi lebih buat ngobrol ma Dr. Lee.
Tuh orang Korea seneng banget dikasih obrolan tentang Poligami. Mereka sepertinya ingin menerapkan poligami di Korea kali yah. Ampe nanya ke Pak Dadang (Supir), dia ko gak poligami. Hahaha. Sampai aku tawarin Prof. Kim buat Poligami. Dengan ketawanya yang renyah dia jawab, "Saya gak perlu istri banyak, itu bisa bikin saya pusing. Istri saya cukup satu, tapi pacar saya banyak". Hahaha. Ngakak juga denger penjelasan dia. Ampe dia nunjukin foto cewe cantik yang katanya itu pacarnya, eh padahal itu artis Korea. Dia juga nanya siapa artis Korea yang aku sukai, ya aku jawab Lee Min Ho. Soalnya aku cuma tau itu doang. Bukannya aku gak suka film Korea, aku cuma gak terlalu terobsesi kaya temen-temen kuliahku.
Perjalanan menuju Bandung, aku didepan sedangkan dua orang Korea di Belakang. Jadi pegel kalo ngobrol.
Singkat cerita (kalo diceritakan semuanya, isi blogku ntar cuma omongan aku sama Prof. Kim doank, capek juga ngetiknya. Hehehe), nih Prof. Kim dia tuh kaya cenayang yang bisa tau apa aku seperti apa padahal baru kenal. Sepanjang jalan, si Professor terus nanya tentang aku. Dia lebih tertarik mengetahui aku dibandingkan Bandung-nya. Sampai dia nanyain alasan kenapa aku menjomblo sampai sekarang. Aku jawab aja, "Takdir,Pak" ala iklan geje di TV.
Sekali-kali Prof. Kim tersenyum bahkan tertawa ketika dia mendengar celotehan aku tentang mengapa sampai sekarang aku menjomblo. Awalnya aku bilang kalau aku menjomblo saat ini hanya untuk mengejar karir agar ketika menikah nanti aku mempunyai persiapan yang matang (asal jawab sih sebenernya). Entah gimana, tuh Professor bagai peramal Ki Joko Bodo, tau aja kalo aku ngarang jawabnya. Akhirnya dia tau juga kalo aku lagi nyari yang pas dan ampe sekarang belom dapet makanya jomblo terus a.ka. gak laku :(.
Terus si Professor dengan bijaknya menyarankan kepadaku agar aku tidak terlalu terburu-buru untuk menikah. Menurutnya, aku harus lebih banyak belajar terlebih dahulu tentang pria. Karena menikah itu untuk seumur hidup jadi aku harus tau terlebih dahulu cara berfikir pria supaya tak terlalu sering menemukan percekcokan dalam rumah tangganya nantinya. Menurut beliau, pernikahan sering berakhir karena tak adanya saling pengertian diantara pihak wanita dan pria, juga cara berfikir keduanya yang berbeda. Misalnya, wanita terkadang akan marah besar apabila si pria tidak memberi menghubunginya seharian. Menurut Prof. Kim, justru si pria tidak akan mengerti kekhawatiran si wanita apabila si wanita justru memarahi si pria yang tidak menghubunginya itu. Cara yang terbaik yaitu buatlah si pria mengerti kekhawatiran si wanita tanpa harus ada emosional. Misalkan, berikan dia efek yang sama dengan si wanita pergi tanpa harus menghubungi si pria. Nah, kalo si pria gak khawatir berarti dia gak cinta sama si wanita itu. Jadi menurut Prof. Kim, untuk mengenggam hati pria justru dengan mempelajari pikiran pria tersebut. Justru Pria akan mudah lepas kalo terlalu dikekang atau dicemburui, tetapi dengan memberikan dia kepercayaan dan mengikuti jalan pikiriannya, maka dengan mudah pria itu digenggam.
Hmmmppph...Boleh juga tuh nasihat Prof. Kim. Sebenernya banyak sih yang beliau nasihatkan. Tapi aku lupa apa saja. hehehe. Cuma nasihat ini yang aku ingat dan ingin mencobanya. Bagi yang butuh tips meraih hati pria, silahkan dicoba.
Bapak Asep Dedi (Kiri), Aku, Prof. Kim (Tengah), Dr. Lee (Kanan)
Prof. Kim dan Dr. Lee di Saung Mang Udjo
Setelah berkeliling Bandung, dimulai dari saung Mang Udjo, Kampung Daun, dan berakhir di Gunung Tangkuban Perahu, perjalanan kedua orang Korea pun berakhir di Rumah Makan Alam Sari Cikampek. Prof. Kim merupakan seorang bapak yang humoris (tak jarang aku sering tertawa mendengar penjelasannya), cara dia bercerita mirip para aktor Korea yang terkadang kocak. Dia Bapak dua anak yang gak punya anak perempuan, jadi dia anggap aku sebagai anak perempuannya (asyik dianggap anak, mungkin karena wajahku juga mirip orang Korea yang cantik itu kali yah. #Ngarep).
Nasihat terakhirnya sebelum kita berpisah: Kamu masih muda. Umur kamu baru 23 tahun, masih muda untuk terburu-buru menikah. Secara biologis, kamu belum terlambat untuk menikah. Kamu masih punya dua tahun lagi untuk serius memikirkan pernikahan. Karena jika wanita sudah berumur lebih dari 25 tahun, mereka sudah tidak menarik lagi secara seksual. Jadi kamu jangan terburu-buru untuk mencari suami. Kamu masih punya waktu dua tahun lagi untuk mempelajari pikiran pria karena pelajaran itu sangat penting buat pernikahan. Dan pernikahan itu harus bisa sekali dan seumur hidup.#wow so wise
Hari yang sangat menyenangkan bagiku. Baru kali ini aku menjadi tour guide sekaligus diskusi gratis sama psikolog. Hehehe. Banyak yang aku bisa petik dari perjalananku bersama Prof. Kim yang mungkin berguna buat aku dan kehidupanku.
Esok hari, Bos menyampaikan sebuah amplop. Dia bilang kalo Prof. Kim dan Dr. Lee sangat senang menghabiskan waktu denganku. Dan diamplopnya itu dituliskan sesuatu yang sampai sekarang amplopnya aku simpan dan isi amplopnya aku figura. Isi amplopnya cuma $20 tapi lumayanlah pengalamannya.
Amplop dari Prof. Kim







Tidak ada komentar:
Posting Komentar